Penerapan Reward dan Punishment dalam Pembelajaran PAI

Reward adalah ganjaran atau hadiah. Dalam bahasa arab ganjaran diistilahkan tsawab (pahala upah dan balasan). Jadi secara umum reward dapat penulis didefinisikan adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang sebagai bagian dari upaya untuk menyenangkan atau membagiakan seseorang dengan tujuan tertentu. Tujuan pemberikan ganjaran kepada seorang siswa berguna sebagai penguatan akan perilaku positif yang dilakukan oleh peserta didik. Jika dikontekskan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas bentuk-bentuk reward yang dapat diterapkan seorang guru, yaitu:

  1. Ekspresi verbal/pujian
  2. Imbalan materi/hadiah
  3. Memandang dan tersenyum
  4. Menuliskan namanya di papan tulis
  5. Menunjukkan kebaikan
  6. Mengganggap kita (guru) bagian dari mereka (murid)
  7. Wejangan / motivasi (Haryanto AlFandi:272-273)

Sedangkan punishment diartikan sebagai hukuman. Dalam literatur islam hukum diistilahkan ‘iqab, jaza’, dan uqubah. Adapun tujuan dari pemberikan hukuman ini sebagai efek jera. Namun Apabila seorang guru ingin memberikan Punishment atau sangsi kepada siswanya haruslah mempertimbangkan lebih matang, apakah perbuatannya setimpal dengan sangsi yang akan diberikan. Menjadi pertanyaan apakah hukuman itu harus berpusat kepada fisik seseorang. Jawabannya tidak. Menurut penulis pemberikan hukuman bagian fisik seorang peserta didik tidak juga dilarang, sebagaimana yang penulis paparkan di atas adalah mempertimbangkan terlebih dahulu konsekuensinya apabila menghukum bagian fisik. Sebagai contoh menjewer telinga siswa, mencubit, mengunting rambut gondrong siswa dengan compang camping karena tidak mengindahkan aturan sekolah, hal tersebut hal yang wajar dilakukan oleh seorang guru, selama dalam  batas tidak berlebihan.

Beberapa bentuk hukuman (punishment) dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Nasihat dan bimbingan
  2. Wajah masam
  3. Teguran keras
  4. Menghentikan perbuatan anak
  5. Memalingkan wajah
  6. Mendiamkan
  7. Cercaan
  8. Hukuman orang tua
  9. Pukulan ringan (Haryanto AlFandi:274-275)

Berdasarkan beberapa bentuk hukuman di atas ternyata hukuman tidak mesti diindentik dengan sentuhan fisik. Apabila seseorang guru kesal dengan perilaku muridnya, mestinya punishment yang diberikan kepada murid tersebut adalah guru memberikan teguran kepadanya terlebih dahulu. Apabila teguran guru tidak dihiraukannya, seorang guru menampak raut muka kesal (misalnya tatapan mata menatap tajam kepada siswa bersangkutan) dan lain sebagainya.

Proses pembelajaran PAI sudah barang tentu materi yang diajarkan terkandung pembahasan seputar akidah, akhlak, sirah yang sifatnya nuansanya begitu spiritual. Oleh sebab itu, peranan seorang guru PAI dalam menyetting pembelajaran sangat diperlukan. Antara lain perlunya persiapan yang matang ketika ingin ingin mengajar. misalnya pembuatan RPP. Ketika berada di dalam kelas guru PAI juga menyampaikan materi pembelajaran tidak menoton. Sehingga peserta didik tidak jenuh. Pembelajaran yang menarik seorang guru PAI bisa menggunakan strategi pembelajaran aktif. Dan materi yang disampaikan selain secara tekstual tentunya yang terpenting adalah materi kontekstual maksudnya materi pembelajaran dikaitkan dengan dunia nyata (kehidupan sehari-hari peserta didik).

Apa hikmah dibalik penerapan reward dan punishment dalam pembelajaran PAI

  1. sebagai seorang calon ataupun sudah menjadi guru PAI, harus menyadari bahwa peserta didik memilik karakteristik yang berbeda dengan siswa lainnya. Oleh karena itu. Seorang guru PAI mengetahui betul psikologi peserta didiknya
  2. dalam proses belajar mengajar, sudah mestinya memberikan reward sebagai upaya pendorong peserta didik untuk senantiasa terbawa angin motivasi agar dalam proses pembelajaran bisa mencapai tujuan yang diinginkan
  3. pemberian punishment oleh seorang guru tidak diindentik dengan langsung menyentuh bagian fisik.

 

Demikianlah sedikit uraian singkat yang dapat saya sharing bersama kepada para pengunjung dan pembaca. Mudahan-mudahan dengan tulisan pendek ini dapat memberikan secercah harapan dan pengetahuan bagi saya pribadi dan juga bagi para pembaca untuk termotivasi menjadi guru PAI yang profesional dan proporsional. Dan kepada Allah jua penulis berserah diri, sebagai insan yanga tak luput dari noda-noda khilaf sekiranya sudi kepada pembaca untuk memberikan kritik saran / masukan yang membangun demi memperbaiki kekeliruan dalam uraian singkat ini  baik yang disengaja maupun tidak sengaja. wallahu a’lam

writer

5 Komentar

Filed under Tulisan

5 responses to “Penerapan Reward dan Punishment dalam Pembelajaran PAI

  1. maaf, untuk rujukan Haryanto AlFandi:274-275, judul buku dan penerbitnya apa ya?

    • pembelajaran pai

      Haryanto Al-Fandi. 2011. Pembelajaran yang Demokratis & Humanis. Jogyakarta: Ar-Ruzz Media,

      trim’s udah berkunjung…

  2. Ping-balik: Wahyu Rishandi, SH

  3. desi nopita

    maaf siapa nama penulis artikel ini ya??

terima kasih atas kunjungannya...mudah-mudahan berbagai tulisan yang kami sajikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca. tak lupa agar silaturrahim pengunjung tetap berlanjut sudi kiranya pengunjung untuk memberikan pesan dan kesan setelah membaca tulisan yang ada di blog ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s